Perpustakaan (atau kantin ya?) favorit di Seoul

Image
Jadi belakangan ini ada tempat-tempat yang jadi favorit gw banget kalo ke Seoul. Awalnya sih karena pas gw dateng ke sana di musim panas, jadi mau jalan-jalan keluar tuh capek juga kalo outdoor terus. Jadi pengennya ngadem aja dan jalan-jalan kalo udah adem. Solusinya adalah gw ke perpustakaan seharian baca buku dan nongkrong sambil nunggu matahari tenggelam.  😙 Awalnya gw emang cuma sekedar tour keliling Seoul cari perpustakaan yang menarik dan nyaman, tapi gw menemukan better deal lagi yaitu kantinnya! Jadi biasanya perpustakaan umum di Korea itu akan gabung sama community center jadi pastinya ada banyak banget fasilitas umum warga disitu, salah satunya adalah kantin yang murah meriah! Makanan di restoran di Seoul biasanya udah menyentuh harga 10.000 won per meal, tapi kalo gw ke kantin ini bisa makan lengkap dengan harga mulai dari 5500-6500 won aja. Wow gak tuh. Jadi kegiatan gw pas musim panas kemarin bener-bener pagi ke perpus, baca buku, siang makan di kantin, baca buku ...

pas sekali



senin kemarin ini, malam hari saya iseng baca-baca tentang sejarah km itb. entah kenapa pengen tau. saya baca dari macam-maam sumber tentang perjuangan mahasiswa itb dahulu pada zaman-zamannya masing-masing. tiap kabinet dengan kasus dan permasalahannya, juga kerja yang mereka buat. semuanya. lengkap dengan nama-nama tokohnya, dengan jurusannya. salah satu sumber menceritakanya dengan luwes seakan-akan itu novel yang menarik. saya tidak bisa berhenti membacanya. setiap cerita saya selami,. kadang kagum, kesal, sedih, senang. setiap perjalanannya berbeda-beda. 
ada pandangan baru yang saya dapatkan. emang sih saya kayak abis baca buku sejarah terus jadi kebayang-bayang gitu.
keesokan paginya, saya bangun dibangunkan telepon teman. saya kesiangan, seharusnya saya datang bantuin dia. saya juga gak tau ngapain. bagi-bagi duit katanya. untuk performance art. saya kira yaa baiklah bagi-bagi duit enaklah. akhirnya saya bangun. tapi tidur lagi saya tak sadar. lalu teman saya sms lagi. karena getar saya kaget. saya syok jadi langsung buru-buru ke itb.
ternyata pagi itu saya dapet hikmah juga. kami diminta membagi uang seribuan dengan tulisan 'untuk hidup yang lebih baik' kepada orang-orang sekitar yang dikira membutuhkan. tapi kami harus ngobrol dengan orang yang dikasih, mencari tau kerjaannya dan harapannya dengan uang itu. memang itu cuma seribu. tapi yang  bermakna adalah doanya dan apa yang kami dapatkan hari itu.
banyak kisah. ada pemulung yang ternyata dulunya seorang penjual bunga milik orang, tapi kemudian digusur,akhirnya dia menjadi pemulung untuk sementara agar bisa mencari modal untuk usaha jual bunga. ada tukang taman yang gak berharap macem-macem, cuma ingin uangnya bermanfaat. ada nenek yang bermain dengan kucing di salman yang ternyata hidup sebatang kara,pernah menikah tapi ditinggal suaminya yang menikah lagi ke jawa, ada kakek yang hanya ingin terus bekerja seperti sekarang sebagai penjual mie instan. banyak lagi cerita lain.
dulu, saat smp. setiap ke gramedia dan menyusuri jalan yang banyak sekali pengemis tua di jalan, uang saya sering jadi habis. di sma, di kereta yang banyak pengemisnya, uang saya sering habis. semakin besar, saya sering dengar cerita, bahkan membacanya dari koran, internet, tau dari televisi bahwa banyak pengemis palsu yang sebenarnya mereka di rumahnya sangat cukup,di kampungnya kaya raya dan sebagainya. sehingga saat kuliah saya kesal jika ada pengemis. saya kesal bahkan saya pernah menyaksikan adegan berganti peran seorang ibu2 biasa menjadi pengemis lusuh di dago.
sampai saya kebal jika melihat orang yang kasihan.
tapi selasa pagi itu. dengan interaksi, dengan pengalaman nyata,saya sadar informasi yang seliweran telah menutup pandangan saya bukannya memberi sudut pandang lain. banyak orang di sekitar saya yang susah yang perlu dibantu. semuanya gak sedangkal itu. gak semuanya palsu, bahkan yang palsu pun hidup mereka belum tentu senyaman saya.
pagi itu juga saya mendengar harapan. tapi yang saya tangkap sepertinya banyak orang yang sudah kehilangan harapan. seperti gak tau mau ngapain, cukup begini saja padahal mereka susah.
kenapa begitu? kenapa mereka tahan bertahun bahkan berpuluh tahun seperti itu terus?
kata temen saya yang lain, ada pengaruh dari pendidikan juga. kebanyakan dari mereka dari kecil tidak sekolah, sudah harus bekerja. sehingga pola pikir mereka tidak terbiasa untuk mencari jalan keluar. 
tapi saya sendiri juga bingung. bingung. tapi mata saya terbuka. 
entah kenapa hari itu hari pas buat saya. siangnya, kami diminta performance art dengan memakai jaket almamater dan tiduran di jalan depan cc seakan akan kami rumput sambil juga membaca-baca tentang itb, sk rektor, kasus mahasiswa, dll yang pas sekali malam sebelumnya saya membaca tentang perjalanan km itb.  pas sekali 



hee. kenapa pas sekali. ha
oh oh oh


nb:semoga nilai saya tidak turun dan nilai mata kuliah umum saya bagus bagus, semoga ipk saya spektakuler bagus. haha. amiiiiiin

Comments

Popular posts from this blog

Disamperin aliran di Korea

Perpustakaan (atau kantin ya?) favorit di Seoul

Yang kayak gini-gini mendingan gausah dipikirin deh, buang-buang kapasitas otak